FLY OVER "PELANGI" ANTAPANI-BANDUNG MENJADI PERCONTOHAN DAERAH LAIN YANG MINIM BIAYA DAN RAMAH LINGKUNGAN
SiberNews-Bandung, — Jalan layang (fly over) Antapani Bandung yang telah resmi hari ini (24/1/2017) ini dibangun dengan struktur baja bergelombang dengan kombinasi mortar busa. Teknologi ini menjadi yang pertama yang diaplikasikan di Bandung.Teknologi ini memiliki keunggulan, yakni proses konstruksi yang lebih cepat sekitar 50 persen dibandingkan pembangunan dengan struktur beton bertulang.
Kepala Balitbang Kementerian PUPR Arie Setiadi Moerwanto mengatakan, jembatan ini menggunakan teknologi struktur baja bergelombang dengan panjang 22 meter. Pembangunan ini bertujuan mengatasi kemacetan di persimpangan sebidang Antapani, tepatnya di jalan Jakarta-Terusan Jakarta yang selama ini menjadi sumber kemacetan.
"Struktur baja bergelombang dengan kombinasi mortar busa punya beberapa keunggulan seperti waktu tempuh pengerjaan konstruksi jembatan lebih cepat 50 persen dibanding struktur bertulang. Efisiensi biaya 60 persen-70 persen. Misal, untuk satu buah jembatan, dibutuhkan Rp 100 miliar menjadi Rp 35 miliar," ungkap Arie Setiadi.
Proyek tersebut merupakan hasil kerja sama Pusjatan Balitbang Kementerian PUPR, Pemkot Bandung, dan Posko Steel Korea. Dari anggaran tersebut, Rp 21, 5 miliar berasal dari anggaran Pusjatan, Pemkot Bandung, Rp 2 miliar, dan Posko Steel Korea dalam bentuk komponen. CMP adalah teknologi yang dikembangkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan (Pusjatan) Balitbang Kementerian PUPR. Teknologi ini merupakan pengembangan teknologi timbunan ringan mortar busa dengan struktur baja bergelombang. Berikut Struktur dan material jembatan layang "Pelangi" Antapani Bandung dengan memakai sistem Corrugated Mortarbusa Pusjatan (CMP) yang baru pertama kali diterapkan di Indonesia.
- Tipe struktur jembatan: corrugated atau armco
- Jumlah bentang jembatan: 3 bentang yaitu 11 meter x 2 dan 22 meter
- Panjang bentang jembatan: 44 meter
- Tinggi jembatan: 5,1 meter
- Lebar jembatan : 9 meter
- Jumlah jalur : 2 lajur 2 arah
- Lebar lalu lintas 6,5 meter
- Lebar bahu 0,75 m x 2= 1,5 m
- Waktu konstruksi 6 bulan.
Pelaksanaan konstruksi CMP juga tidak mengharuskan penutupan jalur kendaraan, sehingga memberikan dampak yang sangat kecil terhadap kemacetan di sekitar lokasi konstruksi. CMP memiliki nilai estetis, sehingga dapat menjadi suatu landscape dan bahkan bisa menjadi landmark suatu kawasan. Konsumsi bahan alam dalam konstruksi CMP jauh lebih rendah dibandingkan konstruksi dengan teknologi beton sehingga ramah lingkungan.
Teknologi mortar busa ini digunakan sebagai pengganti timbunan tanah, atau sub base yang biasanya dipakai tanpa memerlukan lahan yang lebar karena dapat dibangun tegak dan tidak memerlukan dinding penahan serta tidak perlu alat pemadat karena dapat memadat dengan sendirinya.
Penggunaan baja bergelombang, selain mempercepat waktu pelaksanaan overpass juga lebih efisien secara pembiayaan. Biasanya, untuk membuat satu buah jembatan dengan beton bertulang, membutuhkan biaya sekitar Rp 120 miliar. Tetapi, untuk pembuatan overpass dengan struktur baja bergelombang dan timbunan ringan mortar busa, hanya membutuhkan anggaran Rp 35 miliar.
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Danis H. Sumadilaga di Jakarta, menambahkan, dengan selesainya jalan layang tersebut, diharapkan akan mengurangi kemacetan yang selama ini terjadi di persimpangan tersebut. Pembangunan jalan layang Antapani terhitung cepat, hanya memerlukan waktu 6 bulan mulai dari perencanaan teknis hingga pelaksanaan konstruksi dengan menerapkan sistem pengadaan rancang bangun (design-built). "Diharapkan hasil uji coba Litbang ini menjadi model pembangunan jalan layang di daerah lain," kata Danis. Danis menambahkan bahwa, CMP merupakan teknologi hasil penelitian dan pengembangan Puslitbang Jalan dan Jembatan (Pusjatan).
Teknologi ini berupa kombinasi mortar-busa dengan corrugated steel structur. Tujuannya menyediakan teknologi untuk membangun jalan layang dengan waktu yang lebih singkat dan biaya murah serta dalam rangka membantu mengurai kemacetan salah satunya pada simpang-simpang sebidang.
Rencananya, jalan layang dengan teknologi yang sama akan dibangun untuk mengurangi kemacetan akibat perlintasan sebidang kereta api di Kabupaten Brebes dan Tegal. Diketahui bahwa pada musim mudik lebaran 2016, terjadi penumpukan kendaraan setelah pintu keluar tol Brebes Timur akibat perlintasan sebidang kereta api di kawasan tersebut.Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan, Balitbang Kementerian PUPR, Herry Vaza, mengatakan uji pembebanan statis dan dinamis jalan layang Antapani telah dilakukan pada 24 Desember 2016 dengan deformasi (serviceability limit state) dan tegangan (ultimate limit state) telah memenuhi persyaratan teknis.
"Hasil uji dinamis menyatakan bahwa frekuensi natural jalan layang Antapani telah sesuai dengan permodelan yang direncanakan. Berdasarkan hasil dari uji pembebanan tersebut, menunjukkan bahwa jalan layang memenuhi persyaratan teknis dan siap untuk digunakan oleh masyarakat," terang Herry.
Panjang jalan layang Antapani adalah 340 meter (m) dengan jumlah 3 bentang bukaan, yaitu 1 buah dengan bentang bukaan 22 m dan 2 buah dengan bentang bukaan 11m untuk U-turn. Jalan layang Antapani memenuhi persyaratan spesifikasi jalan dengan tinggi ruang bebas vertikal 5,1 m dengan lebar lalu lintas 6,5 m untuk 2 lajur dan 2 arah.
Penggunaan baja bergelombang, selain mempercepat waktu pelaksanaan jembatan layang juga lebih efisien secara pembiayaan. Biasanya, untuk membuat satu buah jembatan dengan beton bertulang, membutuhkan biaya sekitar Rp 120 miliar. Tetapi, untuk pembuatan overpass dengan struktur baja bergelombang dan timbunan ringan mortar busa, hanya membutuhkan anggaran Rp 35 miliar.
Kepala Balitbang Kementerian PUPR Arie Setiadi Moerwanto mengatakan, jembatan ini menggunakan teknologi struktur baja bergelombang dengan panjang 22 meter. Pembangunan ini bertujuan mengatasi kemacetan di persimpangan sebidang Antapani, tepatnya di jalan Jakarta-Terusan Jakarta yang selama ini menjadi sumber kemacetan.
"Struktur baja bergelombang dengan kombinasi mortar busa punya beberapa keunggulan seperti waktu tempuh pengerjaan konstruksi jembatan lebih cepat 50 persen dibanding struktur bertulang. Efisiensi biaya 60 persen-70 persen. Misal, untuk satu buah jembatan, dibutuhkan Rp 100 miliar menjadi Rp 35 miliar," ungkap Arie Setiadi.
![]() |
| Properti Kompas |
![]() |
| Tribunnews.com |
- Tipe struktur jembatan: corrugated atau armco
- Jumlah bentang jembatan: 3 bentang yaitu 11 meter x 2 dan 22 meter
- Panjang bentang jembatan: 44 meter
- Tinggi jembatan: 5,1 meter
- Lebar jembatan : 9 meter
- Jumlah jalur : 2 lajur 2 arah
- Lebar lalu lintas 6,5 meter
- Lebar bahu 0,75 m x 2= 1,5 m
- Waktu konstruksi 6 bulan.
![]() |
| bandung.pojoksatu.id |
![]() |
| Properti Kompas |
![]() |
| 1Berita |
Kelebihan CMP
Kelebihan CMP adalah masa konstruksi yang lebih cepat 50%, jika dibandingkan untuk konstruksi beton umumnya memakan waktu 12 bulan, sementara CMP hanya memerlukan 6 bulan. Kelebihan lainnya adalah bentangan konstruksi jembatan yang panjang dimana lengkungan jembatan dapat mencapai 36 meter sehingga mampu mengakomodir hingga 8 lajur kendaraan dibawah jembatan.Pelaksanaan konstruksi CMP juga tidak mengharuskan penutupan jalur kendaraan, sehingga memberikan dampak yang sangat kecil terhadap kemacetan di sekitar lokasi konstruksi. CMP memiliki nilai estetis, sehingga dapat menjadi suatu landscape dan bahkan bisa menjadi landmark suatu kawasan. Konsumsi bahan alam dalam konstruksi CMP jauh lebih rendah dibandingkan konstruksi dengan teknologi beton sehingga ramah lingkungan.
Teknologi mortar busa ini digunakan sebagai pengganti timbunan tanah, atau sub base yang biasanya dipakai tanpa memerlukan lahan yang lebar karena dapat dibangun tegak dan tidak memerlukan dinding penahan serta tidak perlu alat pemadat karena dapat memadat dengan sendirinya.
Penggunaan baja bergelombang, selain mempercepat waktu pelaksanaan overpass juga lebih efisien secara pembiayaan. Biasanya, untuk membuat satu buah jembatan dengan beton bertulang, membutuhkan biaya sekitar Rp 120 miliar. Tetapi, untuk pembuatan overpass dengan struktur baja bergelombang dan timbunan ringan mortar busa, hanya membutuhkan anggaran Rp 35 miliar.
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Danis H. Sumadilaga di Jakarta, menambahkan, dengan selesainya jalan layang tersebut, diharapkan akan mengurangi kemacetan yang selama ini terjadi di persimpangan tersebut. Pembangunan jalan layang Antapani terhitung cepat, hanya memerlukan waktu 6 bulan mulai dari perencanaan teknis hingga pelaksanaan konstruksi dengan menerapkan sistem pengadaan rancang bangun (design-built). "Diharapkan hasil uji coba Litbang ini menjadi model pembangunan jalan layang di daerah lain," kata Danis. Danis menambahkan bahwa, CMP merupakan teknologi hasil penelitian dan pengembangan Puslitbang Jalan dan Jembatan (Pusjatan).
Teknologi ini berupa kombinasi mortar-busa dengan corrugated steel structur. Tujuannya menyediakan teknologi untuk membangun jalan layang dengan waktu yang lebih singkat dan biaya murah serta dalam rangka membantu mengurai kemacetan salah satunya pada simpang-simpang sebidang.
Rencananya, jalan layang dengan teknologi yang sama akan dibangun untuk mengurangi kemacetan akibat perlintasan sebidang kereta api di Kabupaten Brebes dan Tegal. Diketahui bahwa pada musim mudik lebaran 2016, terjadi penumpukan kendaraan setelah pintu keluar tol Brebes Timur akibat perlintasan sebidang kereta api di kawasan tersebut.Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan, Balitbang Kementerian PUPR, Herry Vaza, mengatakan uji pembebanan statis dan dinamis jalan layang Antapani telah dilakukan pada 24 Desember 2016 dengan deformasi (serviceability limit state) dan tegangan (ultimate limit state) telah memenuhi persyaratan teknis.
"Hasil uji dinamis menyatakan bahwa frekuensi natural jalan layang Antapani telah sesuai dengan permodelan yang direncanakan. Berdasarkan hasil dari uji pembebanan tersebut, menunjukkan bahwa jalan layang memenuhi persyaratan teknis dan siap untuk digunakan oleh masyarakat," terang Herry.
Panjang jalan layang Antapani adalah 340 meter (m) dengan jumlah 3 bentang bukaan, yaitu 1 buah dengan bentang bukaan 22 m dan 2 buah dengan bentang bukaan 11m untuk U-turn. Jalan layang Antapani memenuhi persyaratan spesifikasi jalan dengan tinggi ruang bebas vertikal 5,1 m dengan lebar lalu lintas 6,5 m untuk 2 lajur dan 2 arah.
Pembangunan jembatan layang yang menghubungkan kawasan Antapani (Jalan Terusan Jakarta) dengan Jalan Jakarta ini dimulai pada 10 Juni 2015. Kala itu peletakan batu pertama dilakukan oleh Menteri PUPR Basuki Hadimuljono.
Proses pembangunan memakan waktu cukup singkat, yakni selama 6 bulan. Sebelum digunakan pada 1 Januari 2017 lalu, jembatan layang itu telah melalui tes ujicoba lalu lintas pada 28 Desember 2016 dan serangkaian tes lainnya.
Kelebihan CMP adalah masa konstruksi yang lebih cepat 50 persen. Jika dibandingkan untuk konstruksi beton umumnya memakan waktu 12 bulan, sementara CMP hanya memerlukan 6 bulan.
Kelebihan lainnya adalah bentangan konstruksi jembatan yang panjang dimana lengkungan jembatan dapat mencapai 36 meter sehingga mampu mengakomodir hingga 8 lajur kendaraan di bawah jembatan.
Proses pembangunan memakan waktu cukup singkat, yakni selama 6 bulan. Sebelum digunakan pada 1 Januari 2017 lalu, jembatan layang itu telah melalui tes ujicoba lalu lintas pada 28 Desember 2016 dan serangkaian tes lainnya.
Kelebihan CMP adalah masa konstruksi yang lebih cepat 50 persen. Jika dibandingkan untuk konstruksi beton umumnya memakan waktu 12 bulan, sementara CMP hanya memerlukan 6 bulan.
Kelebihan lainnya adalah bentangan konstruksi jembatan yang panjang dimana lengkungan jembatan dapat mencapai 36 meter sehingga mampu mengakomodir hingga 8 lajur kendaraan di bawah jembatan.
Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan, Balitbang Kementerian PUPR Herry Vaza mengatakan, uji pembebanan statis dan dinamis jalan layang Antapani telah dilakukan pada tanggal 24 Desember 2016 dengan deformasi (serviceability limit state) dan tegangan (ultimate limit state) telah memenuhi persyaratan teknis.





