PROGRAM AHY DIANGGAP TIDAK MASUK AKAL?
SiberNews, Jakarta - Pasangan no urut 1, AHY ( Agus Harimurti Yudhoyono -Silvy) mendapat kecaman dari netizen mengenai program bagi uang untuk modal bagi pelaku usaha, bantuan langsung sementara (BLS) untuk keluarga miskin, dan anggaran 1 milyar satu RW dengan tujuan mengentaskan kemiskinan dan pengangguran dan menyelaraskan pembangunan di Jakarta.
Berikut pemaparan dari netizen melalui perhitungan matematis sederhana.
1. Jumlah RW di Jakarta 2014 adalah 2,709.
2,709 x 1 Milyar = 2.709 Triliun
2. Jumlah UMKM di Jakarta 2014 adalah 930,620 unit.
930,620 x 50 juta = 46.531 Triliun
3. Jumlah kepala keluarga miskin di Jakarta per September 2016 adalah 385,840.
385,840 x 5 juta = 1.929 Triliun
Total dari 3 program saja adalah 51.169 Triliun. Padahal APBD DKI Jakarta tahun 2016 adalah 67.160 Triliun. Masuk akal?
Postingan itu pun langsung mendapatkan reaksi dari netizen lainnya. Banyak yang menyebut postingan tersebut adalah postingan yang cerdas . Adapula yang mencibir tidak masuk akal.
Berbagai komentar pun ikut bicara, mulai dari cara penulisan desimal dan koma, yang dianggap rancu, hingga menyeruak ke rasis.
Secara teknis Agus, telah menjabarkan dalam pidato kampanyenya di GOR Jakarta Utara pada Minggu (13/11/2016) lalu. Ada beberapa program yang akan digulirkan Agus Silvi, Diantaranya,
Program Bantuan Untuk Usaha
Dalam uraiannya Agus menyebutkan bahwa program bantuan untuk usaha akan dianggarkan 1 milyar dari APBD Jakarta. Anggaran itu akan disalurkan ke 20.000 unit usaha.
Menurut Agus, dana bergulir ini akan mencetak usahawan baru, mengembangkan usaha mikro kecil dan koperasi, serta mengurangi angka pengangguran. Dari data BPS, lanjut Agus, masih ada 368.000 penganggur terbuka di Jakarta.
"Apabila satu unit usaha dapat menyerap 5 sampai 10 pekerja, maka program ini akan menghilangkan angka penggangguran 100.000 hingga 200.000 orang," kata dia.
Program Keluarga Miskin
Untuk keluarga miskin Agus akan menganggarkan 5 juta per keluarga selama setahun dengan asumsi total keluarga miskin lebih 384.000 atau 128.000 keluarga miskin atau kurang mampu. Data ini Agus peroleh dari Badan Pusat Statistik (BPS).
"Setiap keluarga miskin tersebut dapat menerima BLS sebesar Rp 5 juta per tahun atau lebih dari Rp 400.00 per bulan," kata Agus.
Dana BLS itu di luar dari Kartu Jakarta Pintar (KJP) dan Kartu Jakarta Sehat (KJS). Dengan BLS, Agus berharap warga miskin dapat terkurangi beban hidupnya.
Dana 1 Milyar Per RW
program ini sungguh bombanstis bagi sebagian orang, Anggaran 1 Milyar per RW untuk mengantisipasi pembangaun Jakarta.
Bantah Bagi-Bagi Uang
Dengan tegas Agus menolak bahwa programnya adalah hanya bagi-bagi uang. Bantuan Langsung Sementara (BLS), kata dia, bagian dari amanah konstitusi, di mana Pemprov DKI Jakarta harus bertanggung jawab terhadap warga miskin. Program ini juga memiliki target dan bersifat sementara. BLS dipastikan akan digunakan untuk pemenuhan kebutuhan dasar, terutama pangan.
"Sementara ini diberikan supaya mereka menjadi lebih berdaya sehingga mampu menolong dirinya sendiri," katanya.
Berikut pemaparan dari netizen melalui perhitungan matematis sederhana.
1. Jumlah RW di Jakarta 2014 adalah 2,709.
2,709 x 1 Milyar = 2.709 Triliun
2. Jumlah UMKM di Jakarta 2014 adalah 930,620 unit.
930,620 x 50 juta = 46.531 Triliun
3. Jumlah kepala keluarga miskin di Jakarta per September 2016 adalah 385,840.
385,840 x 5 juta = 1.929 Triliun
Total dari 3 program saja adalah 51.169 Triliun. Padahal APBD DKI Jakarta tahun 2016 adalah 67.160 Triliun. Masuk akal?
Postingan itu pun langsung mendapatkan reaksi dari netizen lainnya. Banyak yang menyebut postingan tersebut adalah postingan yang cerdas . Adapula yang mencibir tidak masuk akal.
Berbagai komentar pun ikut bicara, mulai dari cara penulisan desimal dan koma, yang dianggap rancu, hingga menyeruak ke rasis.
Secara teknis Agus, telah menjabarkan dalam pidato kampanyenya di GOR Jakarta Utara pada Minggu (13/11/2016) lalu. Ada beberapa program yang akan digulirkan Agus Silvi, Diantaranya,
Program Bantuan Untuk Usaha
Dalam uraiannya Agus menyebutkan bahwa program bantuan untuk usaha akan dianggarkan 1 milyar dari APBD Jakarta. Anggaran itu akan disalurkan ke 20.000 unit usaha.
Menurut Agus, dana bergulir ini akan mencetak usahawan baru, mengembangkan usaha mikro kecil dan koperasi, serta mengurangi angka pengangguran. Dari data BPS, lanjut Agus, masih ada 368.000 penganggur terbuka di Jakarta.
"Apabila satu unit usaha dapat menyerap 5 sampai 10 pekerja, maka program ini akan menghilangkan angka penggangguran 100.000 hingga 200.000 orang," kata dia.
Program Keluarga Miskin
Untuk keluarga miskin Agus akan menganggarkan 5 juta per keluarga selama setahun dengan asumsi total keluarga miskin lebih 384.000 atau 128.000 keluarga miskin atau kurang mampu. Data ini Agus peroleh dari Badan Pusat Statistik (BPS).
"Setiap keluarga miskin tersebut dapat menerima BLS sebesar Rp 5 juta per tahun atau lebih dari Rp 400.00 per bulan," kata Agus.
Dana BLS itu di luar dari Kartu Jakarta Pintar (KJP) dan Kartu Jakarta Sehat (KJS). Dengan BLS, Agus berharap warga miskin dapat terkurangi beban hidupnya.
Dana 1 Milyar Per RW
program ini sungguh bombanstis bagi sebagian orang, Anggaran 1 Milyar per RW untuk mengantisipasi pembangaun Jakarta.
Bantah Bagi-Bagi Uang
Dengan tegas Agus menolak bahwa programnya adalah hanya bagi-bagi uang. Bantuan Langsung Sementara (BLS), kata dia, bagian dari amanah konstitusi, di mana Pemprov DKI Jakarta harus bertanggung jawab terhadap warga miskin. Program ini juga memiliki target dan bersifat sementara. BLS dipastikan akan digunakan untuk pemenuhan kebutuhan dasar, terutama pangan.
"Sementara ini diberikan supaya mereka menjadi lebih berdaya sehingga mampu menolong dirinya sendiri," katanya.
Agus sendiri mengatakan, untuk menjamin BLS diterima oleh pihak yang benar-benar membutuhkan, maka program ini harus dijalankan melalui sistem yang akuntabel dan transparan.
Ke depan, bila program ini dijalankan secara tepat sasaran, kemiskinan dapat diturunkan dari 3,75 persen menjadi 2,75 persen dalam lima tahun mendatang. Di sisi lain, lebarnya kesenjangan juga akan dipersempit. Indikator kesenjangan akan turun dari 0,41 persen menjadi 0,35 persen dalam lima tahun mendatang.
Ke depan, bila program ini dijalankan secara tepat sasaran, kemiskinan dapat diturunkan dari 3,75 persen menjadi 2,75 persen dalam lima tahun mendatang. Di sisi lain, lebarnya kesenjangan juga akan dipersempit. Indikator kesenjangan akan turun dari 0,41 persen menjadi 0,35 persen dalam lima tahun mendatang.
Foto: copyright ©Viva
