YAYASAN TRI KUSUMA BANGSA JADI AGENT YANG CONCERT TERHADAP DUNIA PENDIDIKAN KHUSUSNYA ANAK JALANAN DAN YANG KURANG MAMPU
SiberNews-Jakarta,Yayasan Tri Kusuma Bangsa yang telah berdiri tahun 2012, untuk kedua kalinya mengunjungi anak-anak Suku, setelah Suku Baduy sekarang akan mengunjungi sekitar 100 anak-anak tangguh dan pemberani di Suku Anak Dalam, JAMBI. Ditanya soal kenapa memilih ke Suku Anak Dalam, wanita yang sudah menjalani perjalanan sosial pendidikan bagi anak jalananya selama 5 tahun lebih ini, mengungkapkan, "Adat suku Anak Dalam atau orang Rimba atau orang Kubu, pendidikan dinilai sebagai ancaman bagi sukunya, karena dinilai dapat merusak adat mereka secara keseluruhan dan juga takut akan mendapatkan bencana karena kutukan dari Tuhan. Tetapi, karena mereka tidak bisa membaca, menulis dan berhitung, orang rimba sering tertipu dalam hal perekonomian. Pandangan hidup tersebut akhirnya lambat laun mulai berubah dengan adanya agen yang aktif mengkonstruktif pemikiran dan perilaku orang rimba tersebut. Disini terlihat adanya proses perubahan yang dialami oleh suku anak dalam dari pemikiran yang positivistik menjadi konstruktivistik,"
Pendidikan adalah hal yang paling urgen, dalam menyiasati dunia global yang semakin cepat, dengan beragam pengetahuan yang membuat kita kadang tertinggal dengan negara lain. Ketertinggalan pengetahuan menjadi hal penting dan dilematis dalam membangun kepribadian bangsa. Hal ini sudah diprediksikan oleh pendahulu kita, tokoh pendidikan, "Karena hal itulah menjadi daya tarik kuat untuk kami ikut serta meneruskan upaya yang telah dilakukan pejuang pendidikan sebelumnya, serta dengan hal ini sebagai tanda penyeruan bahwa mereka tidak sendiri dan saya peduli," lanjutnya.
Motto yang menjadi pegangan Yayasan Tri Kusuma Bangsa yang concert terhadap pendidikan memang tidak main-main, untuk mewujudkan pendidikan yang lebih baik adalah tanggung jawab kita semua. Tidak harus berpangku kepada pemerintah. "Pendidikan memang tidak menjamin sukses, tapi tanpa pendidikan kehidupan ini menjadi lebih sulit. Mari jadilah mari jadilah salah satu pejuang pendidikan untuk anak rimba," ujar wanita yang telah mengasuh lebih dari 100 anak ini mengakhiri perbincangannya.
